Kusliah, Usaha Berbuah Kebahagiaan

Dilihat mengenai manfaatnya, Usaha Mandiri Kecil dan Menengah (UMKM) memiliki banyak manfaat untuk warga.
Kecamatan Citeureup merupakan satu dari 40 kecamatan di kabupaten Bogor yang memiliki potensi mengembangkan UMKM dengan pesat karena lokasi yang strategis dan jumlah penduduk mencapai 176.537 jiwa, sehingga pemasarannya dapat terjangkau dengan mudah dan didukung pasar yang tersedia.

Menelusuri UMKM Kecamatan Citeureup yang menurut berbagai sumber telah berjumlah sekitar 200 UMKM, di jalan Mayor Oking yang memiliki sebuah gang bernama gang blok tempe, ada banyak UMKM dengan produksi tempe, bahkan hampir disetiap rumah. Drum-drum besar berwarna biru memenuhi pekarangan rumah setiap warganya, menjadikan tata ruang kurang terkondisikan dengan baik. Selain itu sejauh mata memandang tempe-tempe plastik-lah yang terpampang. Menelusuri lebih dalam, ternyata ada juga yang banyak memproduksi tempe daun yaitu UMKM milik Kusliyah (50).

Saat diwawancara penulis (23/06/13), Kusliyah yang sudah membuka usahanya sejak awal tahun 1982 memaparkan proses perjuangan hidupnya dalam mendirikan UMKM tempe. Awalnya ia datang merantau untuk bekerja di pabrik, namun karena melihat potensi di sekitar lingkungannya, ia lebih memilih bekerja di UMKM tempe menyatu dengan tetangga-tetangganya, namun ia memiliki target untuk mempunyai UMKM tempe sendiri nantinya, dan disitulah ia bisa membuat tempe, hingga setelah ia memiliki modal ia berani membuka usaha tempe bersama suaminya, Damuri(55) yang bekerja sebagai supir mengangkut barang-barang.

Usaha Berbuah Kebahagiaan

Kondisi UMKM miliknya tempo dulu sangatlah maju, karena pemasarannya meluas hingga ke Jakarta, Walau alat-alat masih sederhana, Seperti tidak adanya penggilingan, maka proses penginjakan kacang kedelai dilakukan, lalu tidak adanya pompa air maka menggunakan sumur timbaan. Namun Kusliyah menyatakan bahwa, saat itu proses pembuatan tempe selama 3 hari, terdiri dari beberapa tahap yaitu perendaman, penyucian, peragian, perebusan, dilakukan di lahan sekitar 100×80 meter persegi yang dijadikan untuk UMKM tempenya, di sebelah rumah dan warung miliknya.

Warga asli pemalang yang sudah menetap di Citeureup awal tahun 1976 itu telah merasakan hasil dari UMKM-nya yaitu berhasil menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi, memiliki rumah sendiri, dan warung sembako. Selain itu, ia juga berhasil mensejahterakan keluarga dan tetangga-tetangga di kampungnya serta disekitarnya, dengan mengajak mereka memproduksi tempe, hingga mereka berhasil memiliki UMKM tempe sendiri.

Seiring waktu, UMKM tempe di tempatnya semakin banyak, namun ia tak pernah merasa UMKM miliknya tersaingi, karena ia percaya bahwa rezeki itu sudah ada yang mengatur. Bahkan lahan UMKM miliknya bukan hanya untuk proses pembuatan tempe produksinya, namun memperbolehkan tiga tetangganya memproduski dilahan miliknya, tanpa dipatok harga sewa. Ia menyatakan merasa bangga jika banyak UMKM yang berjalan dengan baik di lingkungannya, artinya mereka mampu memanfaatkan potensi di sekitar lingkungannya.

Kondisi UMKM saat ini memang tidak sebesar kala itu dikarenakan banyak faktor. Kini olahan tempe yang ia buat dikerjakan oleh menantunya, Nurrahman (35), dan hanya menghasilkan 150 potong setiap produksinya. Kusliyah ibu dari tiga orang anak ini sempat bernafas lega karena adanya bantuan PT. Indocement berupa kacang kedelai dan didirikannya KOPTI Makmur yang membantu kebutuhan untuk para pelaku UMKM tempe Rt 06/01. Ia berharap UMKM mendapatkan sosialisai mengenai kegiatan KOPTI kabupaten Bogor, dan perayaan HUT tempe Internasional pada setiap 6 Juni.

Oleh: Fitri Andani

Please follow and like us:
0
fb-share-icon20
20
Pin Share20

Leave a Reply

Your email address will not be published.