Pada sebuah titik di awal sebelum penciptaan semesta. Permulaan sejarah berada dalam genggaman zaman pra-kehidupan. Kegelapan meliputi semua dimensi, ruang dan waktu belumlah tertata. Kemudian terciptalah sebuah inti cahaya di tengah kegelapan semesta. Sekian lama dalam hitungan waktu semesta berlalu, terjadilah Big-bang! Dentuman besar yang terjadi pada inti cahaya. Dentuman yang begitu dahsyat di zaman pra-semesta ini kemudian melahirkan milyaran cahaya, menumbuhkan milyaran bintang yang bisa kita lihat pesonanya hingga kini. Beberapa bintang mengalami supernova pada setiap cahayanya. Big-bang dan supernova akhirnya menumbuhkan galaksi yang merangkum tata surya pada semesta raya, sebagaimana dikehendaki oleh sang Pencipta, Khalika.

Big-bang dan supernova akhirnya menimbulkan hasil reaksi berupa gumpalan kabut debu dan gas, inilah Nebula, yang kemudian bermetamorfosis, ber-evolusi, hingga menjadi padat. Padatan Nebula tersebut terangkai sedemikian rupa dengan gaya tarik yang stabil. Terbentuklah Galaksi, salahsatunya adalah Galaksi Bimsakti, bagian dari silsilah sang bumi.

Semesta yang berjaya dalam misteri. Berselang tujuh masa, dengan hitungan satu masa, adalah seribu tahun usia dimensi bumi, pasca momentum big-bang dan supernova dalam dimensi semesta, akhirnya tumbuhlah ‘embrio’ bumi, masih padat dan panas, asap panas masih membubung di langit semesta. Lapisan dalam hingga ke inti bumi ini adalah berupa gumpalan dan cairan mineral logam serta gas yang sangat panas. Letupan-letupan kecil berapi masih terjadi di dasar bumi.

Inti cahaya yang mengalami big-bang akhirnya tumbuh menjadi cahaya yang sempurna, inilah cahaya El Mahdi, sang Cahaya Terpuji yang merajai semesta raya. Dia rela berbagi cahayanya pada milyaran bintang dengan menghancurkan diri, sebagaimana dikehendaki oleh Sang Pencipta, …tertuang dalam Kitab Semesta. “Laolaka, Laolaka,…lamma kholaktul aflak. (Tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini, kecuali karena Aku akan menciptakan Engkau), wahai Cahaya Terpuji!” demikian Sang Pencipta menyapa alam semesta, seraya menciptakan Cahaya Terpuji yang dipanggil-Nya.

Yang ada hanyalah ‘ada’, satu tanpa nama, tanpa mula, kekal-abadi dan akan mengabadikan, mencipta, aku pun tak tahu namanya, maka aku mulai dengan menyebutnya ‘asal’. Karena semua yang ada dari semula zaman hingga akhir zaman tentu memiliki ‘asal’ yang sama. Dan, manakala kita memahami hal tersebut kemudian menyadari bahwa kita akan kembali ke ‘asal’ semula, inilah yang kita maknai sebagai ‘asalistis’. “♫♪ Cinta ya cinta, ♫♪ cinta ya cinta, ♪ wahai Sang Utusan Tuhan…♫♪Cinta ya cinta, cinta ya cinta, cinta dari-Mu, Tuhan…♫♪” Serumpun syair sayup-sayup terdengar.

Cinta, Utusan Tuhan, Semesta, dan Tuhan sang pencipta. Masih tersimpan baik dan senantiasa disenandungkan di zaman kekinian. Sebuah bukti bahwa antara cinta, semesta dan pencipta selalu terkoneksi dalam kehidupan di jagad raya ini. Bahkan hingga detik ini, dikala anda membaca kisah ini. “♫♪ Salam atas-mu ya Rasul.. ♫♪, ♫♪ Sejahtera bagi-mu ya Nabi,… ♫♪”

Dentuman nada-nada ritmis pun bertalu-talu mengiringi serangkum syair dan doa bagi para utusan tuhan, sang Nabi dan Rasul. Irama dan ritmenya senantiasa disanjungkan dari zaman ke zaman. Pun sebuah bukti bahwasanya, kehidupan ini begitu terpuji, manusia memuji kemuliaan dari jenisnya. Sang pencipta telah memuliakan salah satu ciptaan-Nya dari kerajaan Mamalia. Species Homo-Sapiens, berkembang biak di bumi dengan keragaman keyakinan tentang hidup dan kehidupannya. Manakala Cahaya Terpuji, atau inti cahaya El Mahdi, telah merasuk ke dalam diri manusia, maka dia akan mulia dan terpuji jua. Demikian pula ketika El Mahdi menyentuh bentuk dan makhluk lainnya, terpujilah engkau bila bersama Sang Cahaya Terpuji. Jangan merasa hatimu bercahaya, tapi sesungguhnya El Mahdi-lah yang bersemayam di hatimu yang mungil..

Sang Cahaya Terpuji akan menyinari siapa saja yang selalu ingin berbagi dan memberi pada kehidupan di bumi. El Mahdi akan mencari tempat untuk bersemayam, tempat yang teringininya adalah hati yang terjaga dari perkataan, perbuatan dan makanan yang kotor. Mungkin di antara sekian manusia yang tersinari dan telah bersemayam El Mahdi, salah satunya adalah Bapak David Abdulloh. Dia seorang pengajar di sebuah sekolah menengah terpadu dalam kehidupan desa yang merangkak menuju pola hidup metropolis. Pagi itu, dia mulai aktifitasnya dengan ‘meng-goes’ sepeda kesayangannya, lumayan bermerk, modernis dan layak pandang maupun sandang. Menyusuri jalan yang mulai berdebu dihempas panas ‘agustus’ tahun ini. “Hari ini kebebasan telah mutlak menjadi milik manusia. Kitab-kitab yang telah dilahirkan langit dan bumi semakin berdesak-desakan di Pustaka Jaring Laba-Laba.” gumamnya sambil terus mengayuh santai sepedanya menuju arah matahari terbit. “Aku pun bebas untuk mempertahankan imanku kepada sang pencipta.” lanjutnya.

Pak Dave, begitulah sapa siswanya. Dia  tinggal di sebuah desa bernama Javia, sebuah desa dalam distrik “Tjitrap” yang tata ruangnya hampir beroposisi dengan pola tata ruang ibukota negara. Batavia, adalah ibukota termegah di muka bumi ini yang ternyata dikuasai oleh seorang misterius, mungkin sosok ghaib bagi yang masih mempercayai hal tersebut, atau sebuah auto-computerize bagi yang meyakini sains.

Pengembangan dan pembangunan desa Javia sangat kontras dengan dinamika megapolitan Batavia yang lebih mengutamakan sains tekhnologi serta mulai menggeser keyakinan tentang agama dan kepercayaan terhadap tuhan. Di Batavia, tuhan sudah dianggap sebagai sejarah, atau His Story. Sedangkan di desa Javia, justru tengah diperjuangkan sinkronisasi antara sains tekhnologi dengan kitab-kitab semesta yang diturunkan tuhan melalui makhluk langit untuk disyiarkan oleh para utusan-Nya, bagi keabadian dan keselamatan kehidupan di bumi dan semesta raya.

Pagi itu, Pak Dave memiliki tugas untuk memberikan sebuah materi pembelajaran tentang sains dan iman bagi siswa modern. Ini harus disampaikan pada jam pelajaran muatan lokal di sekolah tersebut. Ia terus mengayuh sepedanya sekira satu kilometer menuju Bukit Hambalang di mana Boarding Transformation School berada. Sebuah sekolah dengan konsep yang terintegrasi dengan pelestarian alam dan lingkungan. Boarding School Destruction lebih dikenal akrab dengan sebutan BSD. Gedung BSD berdiri anggun dalam suasana sejuk alam perbukitan. Sekolah ini dibangun dengan konsep pendobrak pendidikan konservatif, namun dalam nuansa rekreatif dan representatif serta berwawasan pelestarian lingkungan. Semua siswa dan pengajar tidak ada yang menggunakan kendaraan bermotor. Kendaraan mereka harus di parkir sekurang-kurangnya dua kilometer dari kawasan sekolah. Pemerintah desa dan yayasan transformasi telah bersinergi untuk memfasilitasi tempat parkir kendaraan bermotor yang dikelola oleh sebuah badan usaha milik desa yang dapat menghasilkan pendapatan asli bagi desa Javia. Hal ini yang menjadikan kawasan Boarding School Destruction merupakan Zona Integritas Ramah Alam yang sejuk dan bebas polusi. Setiap hari berlalu-lalang para pejalan kaki dan pengguna sepeda. Para pedagang, pengajar dan peserta didik berjalan beriringan, bercengkerama dan bertegur-sapa penuh kesantunan. Tanpa raungan mesin dan tanpa polusi. Sesuatu yang sangat klasik dan alamiah berdetak di zaman serba automatic. (bersambung)

Vision Posible
Benih Asalist
Imagine

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *