Desa Sawitri adalah program desa tarikolot yang dicanangkan sejak tahun 2019, tentu hal tersebut adalah buah pemikiran kepala desa tarikolot yang sangat berharga. Sementara komunitas, atau kelompok swadaya masyarakat (KSM) Asalist telah lebih dari 20 tahun berpikir tentang desa tarikolot. Maka saat desa sawitri mulai digerakan oleh pemerintah desa tarikolot, tentu KSM Asalist turut serta berpikir dan menyesuaikan programnya untuk kepentingan masyarakat desa secara umum dan meluas. Selanjutnya, KSM Asalist membentuk KRL (Komunitas Ramah Lingkungan) Asalist yang diadaptasi dari program Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor melalui BKGC-nya. atau Bogor Kabupatenku Green N’ Clean.

KRL, BKGC, dan Desa Sawitri idealnya mampu mendorong percepatan Panca Karsa di desa tarikolot. Namun pada kenyataannya berjalan tertatih-tatih dan relatif lambat. Tentu banyak hal dan faktor yang menyebabkan perlambatan ketercapaian Panca Karsa di desa tarikolot. Dalam kacamata ‘Asalist”, Bogor Membangun, Bogor Sehat, Bogor Cerdas, Maju dan Berkeadaban memiliki peluang yang sangat terbuka diwujudkan di desa tarikolot dengan beberapa keunggulan potensinya, baik SDM dan sumber daya alamnya. Artinya, Panca Karsa dapat diaplikasikan berupa miniatur kabupaten bogor dalam skala pergerakan desa, atau skala mikro (dusun atau RW), bahkan skala nano (RT atau Serumpun) dengan kelengkapan indikator panca karsa tersebut.

Berangkat dari pemikiran aplikasi Panca Karsa dengan penggunaan skala pergerakan, KRL Asalist sebenarnya sudah mulai berproses dengan penelitian potensi partisipasi masyarakat melalui Bank Sampah di RW.02 pada tahun 2019. Kemudian, tahun 2020 mencoba menumbuhkan ‘Zero Waste Team’ (Tim Futsal Ramah Sampah) dalam kegiatan Citeru Futsal Academy serta pengembangan riset (Trial and Error) di lokasi RT.01/RW.02 melalui konsep “Balai Sakola Desa” (BSD) dengan sistem program triwulan, semester dan program tahunan.

Program pengembangan KRL (Komunitas) ini, tidak pernah mengenal kata “lelah” apalagi “menyerah”. Semua hal akan dilihat sebagai sebuah tantangan, dan dijadikan ‘materi pembelajaran’. Terhitung sejak 14 Juli 2020, Citeru Futsal Academy bergerak dan beroperasi, seiring pula pergerakan “RKS” (Ruang Kendali Sampah) pada tangga 31 Juli 2020, atau bertepatan dengan tanggal 10 Dzulhijah 1441 Hijriyah. Secara non formal, kepala desa tarikolot mendukung “riset” BSD untuk KRL, yang dimotori oleh KRL Asalist, dengan menumbuhkan KRL (Kampung Ramah Lingkungan) dalam skala dusun (Dusun II) yang meliputi RW.02, RW. 05 dan RW.09, dengan konsep dasar KRL desa sawitri maka setiap RW, dinamai KRL SAWITRI.

Sudah menjejakan kaki pada program pengendalaian sampah CR5 (Colouring Recycling Five) dengan tahapan CR3 (tiga warna sampah) dalam kurun waktu 10 (sepuluh) bulan, pergerakan KRL (Komunitas) Asalist terus berupaya mendeteksi kompleksitas permasalahan sampah dengan orientasi program KRL (Kampung Ramah Lingkungan) mealui RKS (Ruang Kendali Sampah). Sasarannya adalah para ketua RT dan Pengelola Sampah di masing RT/RW menekankan pengendalian sampah dari rumah, proyeksi “zero waste from home’ di masa yang akan datang akan mudah dicapai apabila RT dan RW, satu visi dengan KRL. Namun, setelah dievaluasi selama 3 (tiga) bulan, ada indikator bahwa RT/RW hanya berorientasi pada penghimpunan dana swadaya dan upah kerja, bahkan berharap ada biaya koordinasi kelembagaan atau nilai ekonomis lainnya.

Tentu indikasi ini perlu dipertajam, agar tidak menjadi prasangka atau issue KRL saja. Per-tanggal 10 Januari 2021, KRL Asalist menutup RKS (Ruang Kendali Sampah) kecuali untuk Organik dan Non Organik. Hal tersebut disampaikan kepada ketua RW dan Pemdes, melalui Sekretaris Desanya. Kemudian KRL Asalist membuat riset pengendalian dan pengelolaan sampah di RT.01/RW.02 sebagai presentasi kepada RT/RW yang telah menjadi pemanfaat RKS selama 3 (tiga) bulan.

Kenyataannya pihak RT/RW cenderung menghindari komunikasi dan koordinasi dengan KRL Asalist yang sebelumnya telah memfasilitasi pengelolaan dan pengendalian sampah melalui komitmen bertahap, organik dan non organik. Terhitung sejak 11 Januari hingga hari ini, (hingga tulisan ini disusun) ketua RT dan RW cenderung bermain “sampah liar” tanpa terpisah dan terpilah. Tanpa izin dari RT/RW setempat, memindahkan maslah sampah dari wilayah RW.05 dan menjadi masalah di RW.02, desa tarikolot. Ini kontra-produktif dengan komitmen KRL Asalist yang dituangkan melalui komitmen (MoU) yang sangat sederhana, tertulis dan diarsipkan.

Dengan terjadinya kontra-produktif dalam hal pengelolaan sampah secara terpisah dan terpilah 3 (tiga) warna minimal, hijau, kuning dan kelabu oleh pengelola sampah RT/RW yang telah menjadi pemanfaat RKS. Maka perlu kiranya memberikan edukasi intensif secara sosial melalui tulisan di “Citeureupedia’ . Tentu harapannya adalah pihak terkait dan berkepentingan mampu mendengar dengan hati, melihat dengan pikiran, menangkap dengan mata kepala sendiri, sehingga akhirnya menjadi bahan diskusi lebih intensif di masa yang akan datang. Khususnya bagi pemerintah desa tarikolot, kecamatan citeureup.

Selain menjadi materi diskusi, program desa sawitri pun tidak menjadi ‘fiksi menghidupkan’ (makna savitri) masyarakat desa tarikolot mengingat masalah sampah adalah masalah utama menurut pandangan KRL (komunitas) Asalist. Ketika pemerintah desa mampu menanggulangi permasalahan sampah secara mikro, maka akan lebih mudah menyelsaikan secara makro. Mengingat tahapan yang dilaksanakan di tingkat RT, atau block serumpun dalam sebuah lingkungan atau komunitas dapat diapilkasikan pergerakannya dalam konteks yang lebih luas.

Realitas yang dihadapi KRL Asalist sebagai Komunitas Ramah Lingkungan yang masih dihantui rasa penasaran adalah, belum adanya pembahasan rancangan Peraturan Desa (Perdes) yang menjadi “tuntutan” komunitas Asalist kepada BPD Desa Tarikolot melalui Lintas Juang Susur Kali 2019. Hingga hari ini belum memiliki bukti otenstik tentang perdes tersebut. Padalah dunia global sudah terbuka, seyogyanya wawasan perdes bagi BPD dan pemerintah desa menjadi bahan kajian dan pertimbangan serta diwujudkan. Bagi KRL Asalist, kesabaran masih menjadi senjata utama meski tanpa senjata ‘peraturan desa’ yang mungkin saja akan dilanggar oleh warga desa. Namun bagaimana apabila tidak aturan, tentu kita tidak bisa menghitung berapa warga yang sadar dengan aturan tersebut. Di sinilah, KRL Asalist mengajak semua pihak untuk berpikir bersama dengan pijakan pada aturan yang jelas.

Tanggal 11 Mei 2021, bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1442 Hijriyah, Ketua Komunitas Ramah Lingkungan (KRL) Asalist memberikan pernyataan melalui pesan suara, bahwa KRL (Kampung Ramah Lingkungan) dalam hal ini, KRL Sawitri RW.02 dan Sawitri RW.05 yang telah difasilitasi dalam pembentukannya oleh KRL Asalist secara sepihak dinyatakan “bubar-barisan”. Artinya, pembentukan KRL dan atau kepengurusan selanjutnya tidak terkoneksi lagi dengan KRL (Komunitas) Asalist. Adapun KRL Asalist untuk selanjutnya bertransformasi (metamorfosis) menjadi “Balai Sakola Desa” (BSD-Asalist) yang akan fokus pada edukasi non formal dalam bidang konservasi, sosial, dan usaha ekonomi produktif dengan tahapan proses menggunakan skala-ruang, RT dan RW.

Bagaimana dengan sampahnya, tentu kita menunggu pemindaian dari pemerintah, baik pemdes maupun kecamatan. Karena ini bukanlah kecaman terhadap pemerintah kabupaten denga panca karsanya. Melainkan sebuah pertanyaan, sudahkah para ketua RT dan RW di desa tarikolot memiliki bukti panca karsa. Silakan gunakan hak jawab, atau tetap kita simpulkan bahwa desa sawitri adalah fiksi.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *