Gejala senam jari via media sosial, khususnya WA juga terpaparnya anak-anak Indonesia oleh virus game online dan aplikasi hiburan lainnya menjadi dasar pemikiran menumbuhkan sebuah lembaga pendidian non formal yang disebut Balai Sakola Digital 5.0. Idealisme yang cukup berat mungkin bagi sebagian orang yang cenderung hidup dalam kompleksitas tinggi. Beberapa kalangan berpikir tentang korupsi, politik, kekuasaan, pendidikan ideal dan ekonomi lokal dan global.

Balai Sakola Digital 5.0 (BSD) hanya ingin mengurai semua kompleksitas pemikiran tersebut dengan cara yang sederhana, yaitu “perkecil skala kompleksitasnya”. Sederhanakan semuanya, mulailah dari “diri sendiri”. Mulailah dari rumah kita, semangatlah untuk berpikir tentang lingkungan sekitar kita, untuk anak-anak yang berlari-riang di depan rumah kita, teman-teman anak-anak kita yang tengah asik di rumah dengan gadgetnya berjam-jam. Tak perlu waktu lama, Yuk kita ajak ke BSD 5.0.

BSD 5.0, ada di mana? Pertanyaan retoris tersebut bisa saja dijawab singkat, di hatimu! Karena memang semua akan tumbuh dari hati anda, hati saya, hati kita. Sudahkah kita berhati-hati dengan pengaruh teknologi digital di rumah kita? Jika sudah, bersyukurlah. Jika aman dan terkendali, berbagilah solusinya di BSD 5.0. Artinya, BSD 5.0 sangat menantikan kontribusi pemikiran anda sebagai pembaca, dan saya secara pribadi sangat membutuhkan BSD 5.0 karena di masa yang akan datang, penguasaan teknologi ramah anak mutlak dibutuhkan. Ini membutuhkan hati dan pemikiran yang terbuka, membutuhkan doa bersama dan upaya bersama yang terencana, serta seimbang-berkelanjutan.

Kemudian, bagaimana kita memposisikan BSD 5.0 sebagai road map desa digital? Hal ini penting untuk diuraikan dalam tulisan ini. Dengan berpikir tentang kesulitan menumbuhkan desa digital di desa kita, di kecamatan citeureup tentunya, maka tentu kita menutup pintu berpikir untuk mewujudkan desa digital tersebut. Sekali lagi, mari kita sederhanakan pola pikir kita, lepaskan semua kompleksitas hidup kita agar cara berpikir kita tidak ‘mampat’.

Sebuah peta perjalanan pasti memiliki “start” di mana, atau dari mana kita memulai perjalanan menuju ‘Desa Digital’. Sekali lagi, mari kita mulai dari diri kita sendiri, mulailah ‘berliterasi’ secara digital. Jangan melulu kirim stikers di grup WA, mulailah berpikir digital itu seperti apa. Bagaimana keluarga kita bersama memulai interaksi digital secara baik. Gunakan gerakan skala mikro, bahkan nano, meskipun kita berpikir besar tentang Indonesia misalnya, tapi mulailah dari diri kita terlebih dahulu. Berusaha mengetahui apa itu ekonomi digital, pendidikan digital, sosial politik digital, dan perihal lainnya yang erat kaitannya dengan masyarakat digital. Saya berpandangan, masyarakat digital harus menuju Civil Society 5.0, masyarakat yang tumbuh dengan kemampuan menguasai teknologi, memanfaatkan teknologi secara baik, bijak dan benar. Mampu mengantisipasi sejak dini, sejak saat ini, sejak detik ini tentang hal-hal buruk dari arus teknologi dan digitalisasi. Caranya, mari bergabung di BSD 5.0. Balai Sakola Desa (Civil Society) 5.0 akan terus menumbuhkan dan menggerakan peradaban dan pemikiran baru yang sederhana, dari diri kita, keluarga kita, tetangga kita, RT kita dan seterusnya dengan road map yang akan kita susun dan sepakati bersama di BSD 5.0. Semoga panjang umur semuanya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *