Berita yang baik tentu harus memiliki kelengkapan unsur berita yang baik, yaitu 5WH1. Untuk memudahkah pemahaman bagi pembelajar dasar maupun menengah dalam memahami berita sering disebut ADIKSIMBA (Apa, Dimana, Kapan, Siapa, Mengapa dan Bagaimana). Sedangkan yang akan disampaikan di sini, jelas-jelas bukan berita, namun tetap berusaha menyampaikan dengan beberapa unsur ADIKSIMBA tersebut.

Apa yang disampaikan di sini hanyalah sebuah konsep pemikiran baru dari sesuatu yang telah dijalankan cukup lama, bahkan terlalu lama mendekati usang. Sakolaan, sekolah, ngaji, majelis, pesantren, madrasah dan banyak lagi nama-nama konsep yang hampir usang tersebut, hingga semuanya hampir luluh-lantak diterpa badai pandemi Covid 19 dengan PSBB, PPKM atau entah apa namanya nanti.

Badai pandemi yang tengah terjadi saat ini ternyata menyajikan kondisi terkini wajah Indonesia antara Jawa dan Bali saja, apakah ini memiliki makna tersendiri atau memang realitas pandemi sedemikian. Di mana kita dapatlah menyimpulkan bahwa negara Indoneisa adalah negara politik. Bukan lagi negara agraris, bukan negara berkembang, bukan negara demokratis, bukan negara komunis, apalagi negara Islam. Tentu hal ini dapat dipahami oleh beberapa gelintir warganya saja, bahkan mungkin segelintir yang berpikir tentang Indonesia kini, dan nanti.

Siapa yang salah? Salahkah para pendahulu kita yang disenandungkan dalam lagu mengheningkan cipta. Para pengusung pergerakan kemerdekaan kah, yang salah membuka gerbang? Atau mungkin para penggerak Taman Siswa yang salah melepaskan anak panah dari busurnya. Hingga patriot bangsa ini, disfungsi ereksi? (Maaf) tidak mampu melahirkan generasi yang tumbuh kuat. Sekian tahun Indonesia merdeka, belum mampu mengusir Yamaha, Honda dan sebagainya dari tanah air Indonesia. Malah yang pernah tampil Jialing hingga kini lahir Wulling. Kemana Sudirman, kenapa tidak mampu mengganti Yamaha dengan Jawa, Honda dengan Sunda, meski hampir Toyota ditembak SMK. Tapi jujur, Indonesia kalah telak!

Mari kita berhitung kekuatan sejenak, mengapa Honda, Yamaha, Suzuki atau Toyota masih menguasai Tanah Air Indonesia. Mengapa warga Indonesia terus dijejali panjat pinang dan tarik tambang. Hello, tik-tok? Sudah berpa lama kita Merdeka seperti ondel-ondel, terkurung bergembira sambil menikmati kebebasan berjalan dan berkeliling di jalan raya. Itulah mengapa, Balai Sakola Digital 5.0 harus segera ditumbuhkan, meski dalam skala mikro. Bagaimana menumbuhkan iklim demokrasi ideal Pancasila, bagaimana peran pemerintah dan swasta dalam harmoni kekuatan yang mandiri. Penting untuk diberitakan, tapi tidak hari ini.

Bagaimana mengusir Honda, Yamaha, Suzuki dan lain sebagainya dari bumi pertiwi? Tak mungkin dibahas di sini. Nanti melahirkan korban di KM 50, lagi, atau ada yang divonis dengan akal yang kurang sehat. Silakan dipikirkan sendiri-sendiri. Silakan tetap menghormat bendera esok pagi, dan teruslah mengheningkan cipta. Meski dengan menundukan kepala itu tidak mengubah apa pun dengan pandemi covid 19. Juangkan kemerdekaaan agar lebih nyata. Merdeka, atau dibeli? Camkanlah Karang Taruna!

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *