Pemuda ini Ubah Kayu Bekas jadi Produk berkelas

Karang Asem Barat – Citeureupedia ; Tak ada yang menyangka onggokan sampah kayu itu membawa keberuntungan buatnya. kayu-kayu itu menjadi wasilah penopang kebutuhannya, keluarga, serta para pekerjanya. Kayu-kayu bekas itu disulap menjadi Frame (bingkai) yang punya nilai jual. Tak terhitung Frame Photo, Standing Frame lukisan, Frame mahar, Rak Minimalis hingga kotak emas batangan yang ia kerjakan di bengkel kreatifnya.

Bangunan yang tak jauh dari gerbang tol Citeureup itu memang mengerjakan segala jenis bingkai, tak hanya itu, setahun terakhir bahkan mulai membuat mesin pembuat frame yang di klaim satu-satunya di Indonesia. Untuk itu tak ada salahnya kita berkenalan dengan pemiliknya.

Mardana, lebih akrab disapa Dana, Owner Sahla Frame yang menyuplay kebutuhan Frame untuk Instansi Sekolah , perkantoran, hingga masyarakat umum. Penampilannya sederhana, Sesederhana ruang kerjanya, bangunan yang ia tempati sejak 10 tahun lalu itu menjadi ruang kreasinya.

Saat ditemui Citeureupedia di Workshopnya yang terletak di Kp jembatan 2 RT 04/07 Desa karang asem barat, tepatnya di belakang Rasa Sayang, Jagorawi Citeureup, Pria satu anak ini menyampaikan harapannya untuk bisa juga merambah pasar mancanegara, terutama untuk mesin Frame buatannya.

Berawal dari keinginan menciptakan lapangan pekerjaan, Pemuda yang pernah mengikuti ajang inovasi ini membuat produk yang akhirnya mengantarkannya hingga saat ini. Dibantu beberapa rekannya Dana dahulu membuat frame yang dipasarkan ke toko-toko.

“ Awalnya sih dulu iseng-iseng membut frame,” kenangnya

“ atas bantuan teman-teman , frame buatan saya banyak dipesan toko-toko hingga Sekolah,” tambahnya.

Dana sempat juga mengikuti Balai Latihan Kerja yang diselenggarakan Pemerintah. Pemuda kelahiran Citeureup ini menggeluti teknik mesin sesuai hobinya mengotak-atik mesin. Berkat kesungguhannya, ia diberikan bea siswa untuk menekuni bidang teknik mesin industri. Gelar D3 pun ia dapatkan kurang dari satu tahun.

Salah satu ajang inovasi yang pernah dikutinya adalah Lomba Teknologi Tepat guna. Di event itu ia menjagokan mesin potong frame buatannya. Alhasil ia masuk 10 besar menyisihkan puluhan inovator lainnya.

“ Saya membuat mesin ini juga untuk membantu teman-teman pengusaha kecil seperti saya,” ujarnya.

“ Kalau mesin import harganya kisaran 15 hingga 20 juta, mesin buatan saya bisa separonya,” tambahnya.

Sayangnya Dana terkendala hak paten untuk mesin buatannya. Untuk itu ia berharap Pemerintah untuk membantunya. Selain itu bimbingan dinas terkait pun ia nantikan untuk kemajuan usahanya.

Saat ini ia sedang berupaya mengolah Styrofoam menjadi bahan baku bingkai. Menurutnya dibanding fiber, styrofoam lebih ekonomis dan juga bisa membantu daur ulang sampah. (AR/GS)

Please follow and like us:
0
fb-share-icon20
20
Pin Share20

Leave a Reply

Your email address will not be published.